Sejarah desa Tambirejo sampai kini belum ditemukan
referensi yang baku, berkaitan dengan nama yang besar yaitu Tambirejo. Banyak
sumber cerita yang dapat dikembangkan berkenaan dengan nama Tambirejo. Penulis
berusahan untuk menggalinya dari berbagai sumber.
Mbah Marwan 80 tahun sesepuh desa yang penulis hubungi
menyatakan, dahulu kala desa Tambirejo terletak dipinggir sungai dimana sungai
tersebut mengalir dari Pegunungan Prawoto di wilayah Pati melalui Kudus terus
ke Demak yang melewati sebuah kampung yang waktu itu bernama Domas. Sungai tersebut
merupakan jalur lalu lintas "Punggowo Agung" Kasunanan Prawoto yang
hendak "Sowan" ke Kerajaan Demak Bintoro.
Penulis berusaha untuk mencari berbagai sumber tentang
keberadaan nama Tambirejo, namun tidak ada satupun yang dapat menceritakan.
Namun dipandang dari segi ETIMOLOGI nama Tambirejo bisa diperoleh dari Tambi
dan Rejo. Tambi artinya sebuah tempayan yang besar yang terbuat dari anyaman
bambu yang biasa dipakai orang desa untuk menjemur hasil panen pada jaman dulu,
dan sekarang lebih banyak dipakai oleh masyarakat untuk tempat meletakkan hasil
panen, sedangkan Rejo berarti "makmur murah sandang pangan”. Dengan
demikian Tambirejo bisa berarti sebuah kampong yang luas dan bentuknya bundar
seperti tambi yang merupakan daerah yang makmur rukun damai dan sentosa.
Nama tersebut erat kaitannya dengan beebrapa tokoh
pendahulu yang kini sangat disakralkan oleh warga masyarakat Desa Tambirejo,
nama-nama tersebut antara lain:
a.
Mbah Rukun
Mbah Rukun
adalah sebuah nama yang cukup melekat erat dihati masyarakat Desa Tambirejo.
Hal tersebut dapat dilihat dari semakin eratnya kekeluargaan yang terjalin.
Makamnya terletak di sebelah utara desa dan di dalam sebuah bangunan yang kini
disebut “Sarean”. Setiap hari Senin dan Kamis Sarean tersebut selalu ramai
dikunjungi orang untuk berziarah.
Setiap warga
Desa Tambirejo yang akan punya hajad sudah pasti mengirim sesaji berupa ingkung
dan nasi untuk selamatan. Kecuali hal itu mitos yang berkembang di masyarakat
dimana ada orang luar desa yang pindah dan menetap di Tambirejo pasti akan
Kerasan dan Rukun tidak suka bertengkar.
b.
Mbah Nambangan
Adalah
seorang tokoh utusan dari kasunanan prawoto yang diutus sowan ke Demak. Namun
dalam perjalanan yang menggunakan jalur sungai, perahu yang ditumpangi terseret
arus sungai sehingga perahunya terbalik bersama penumpangnya dan terdampar di
pinggir sungai dan dimakamkan di tempat itu yang kini dikenal dengan nama mbah
Nambangan (orang yang menjalankan perahu untuk menyeberang) dan welahnya (benda
yang dipakai untuk mempercepat laju perahu) terbawa arus sampai di Welahan
jepara, sedangkan kayu yang digunakan untuk mengatur gerak perahu ke pinggir dank
e tengah (watang) terdampar di sebelah selatan yang dinamai Desa Ngacir, yaitu
sebuah desa di wilayah Kecamatan Dempet sebelah Utara.
c.
Mbah Dungkap
Nama tersebut
erat kaitannya dengan berdirinya desa Tambirejo. Nama Dongkap konon diambil
dari nama seorang Petapa dimana dalam setiap pertapaannya selalu ketahuan orang
(yang dalam bahasa jawa disebut kedungkapan) dan sampai wafatnya, kini makamnya
terdapat di Mlatiharjo. Sehari penuh penulis menelusuri seluruh perkampungan
untuk menemui sesepuh desa guna mencari tahu keberadaan nama Tambirejo. Hasil
yang didapat berupa nama-nama kampong yang menjadi cikal bakal berdirinya nama
Desa Tambirejo. Kampung itu antara lain:
1.
Domas Gedhe
2.
Domas Cilik
3.
Dungkap
4.
Brojo
5.
Ngelo
6.
Tempel
7.
Mojosimo Cilik
8.
Mojo Simo Gedhe
9.
Mojo Simo Rowo
Penulis
berusaha menggali beberapa sumber tentang keberadaan nama-nama tersebut.
DHOMAS
Mbah Juwadi 70 tahun yang penulis ajak berbincang-bincang tentang nama
Dhomas menceritakan:
Nama tersebut erat kaitannya dengan nama seorang yang sangat rukun
dalam hidupnya sehingga sampai akhir hayatnya mereka mati bersama dan
dimakamkan berdampingan yang disebut mbah Rukun. Orang inilah yang konon memiliki
segenggam emas yang diletakkan dalam sebuah waloh (buah bulat yang biasa dibuat
minuman kolak). Waloh tersebut dikubur (dipendam jawa) ditempat pertapaannya.
Sampai akhir hayatnya taka da yang tau letak pendheman waloh tersebut. Dari
kata pendhem emas itulah akhirnya
berubah menjadi Dhomas. Dhomas inilah yang sekarang menjadi pusat pemerintahan
Desa Tambirejo. Dimakam Mbah Rukun tadi apabila keluarganya Mbah Wineh (warga
desa Ngluntas) sering berziarah akan didapat rezeki yang banyak.
DUNGKAP
Nama Dungkap diambil dari kisah seorang petapa yang selalu Kedungkapan
(ketahuan) orang saat sedang bertapa.
BROJO
Di kampung inilah konon ada seorang yang memiliki ajian (Do’a yang
dikeramatkan dan memiliki kekuatan gaib berlebih) bernama Brojo Musti. Apabila
ilmu itu dibaca dan dipakai untuk menempeleng musuh seketika musuh itu mati.
Karena kesaktian ilmunya itulah orang tersebut kemudian mendirikan Pahepok’an
(Tempat menimba ilmu kesaktian) yang diberi nama Ki Brojo yang dalam
perkembangannya disebut Mbrojo.
NGELO
Kata Ngelo didapat dari istilah gelo (orang kecewa) mengapa kelompok
masyarakat ini disebut gelo? Dulunya gelo ini hanya dihuni oleh satu keluarga
yang gelo diatas. Dimana keluarga tersebut gelo dengan kepemimpinan kepala desa
yang tidak adil dalam membagi anggaran pembangunan, maka ia menyendiri dan kini
menjadi sebuah kampung yang disebut Ngelo. Sumber lain yang penulis hubungi
menyatakan hal yang berbeda, kata Ngelo diambil dari sebuah kata yang dimana di
kampung tersebut dulu kala ada seorang yang kalau berjalan suka menggelengkan
kepala atau dalam bahasa jawa disebut nggelo yang akhirnya berganti menjadi
Ngelo.
TEMPEL
Nama temple adalah sebuah kampung kecil di dekat Desa Tanjunganyar
namun jauh dari desa induknya yaitu Tambirejo. Karena letaknya yang menempel
itulah disebut kampung Tempel yang letaknya bersebelahan dengan Desa
Tanjunganyar.
MOJOSIMO
Nama Mojosimo berasal dari sebuah nama pohon yaitu pohon mojo dan
seekor simo atau macan besar berbulu lebat dan bertaring. Alkisah seekor singa
tersebut bersarang di bawah pohon mojo singa tersebut suka memangsa manusia
yang melewatinya. Namun berkat kerjasama para tokoh akhirnya dapat ditaklukkan
dan mati dibunuh. Untuk meengabdikan peristiwa itu tempat tersebut diberi nama
Mojosimo.
TAMBIREJO
Nama besar Tambirejo menurut pemuka masyarakat berasal dari kumpulan
nama-nama kampung diatas, dimana letak geografis Tambirejo yang berada
dipersimpangan sehingga berkembang pesat menjadi sebuah desa yang makmur dalam
bahasa jawa disebut REJO. Hal ini ditandai dengan berdirinya sebuah pasar yang
didalamnya banyak dijual Tambire (sebuah barang tradisional yang terbuat dari
anyaman bamboo berbentuk bulat yang biasa dipakai untuk menjemur hasil bumi).
Karena keramaian pasar tersebut akhirnya membuat desa ini makmur (rejo). Inilah
yang akhirnya dikenal dengan nama Tambirejo. Dalam perkembangan pemerintahan
Tambirejo terpecah menjadi dua desa yaitu Tambirejo dan Mojosimo.


Kalau mlatiharjo gimana sejarahnya
BalasHapus